Bimbingan Mental "Memaknai Hari Santri Nasiponal" oleh Hakim Pengadilan Agama Sampang
Pada hari Rabu, 23 Oktober 2025, seluruh pegawai Pengadilan Agama Sampang melaksanakan salat Ashar berjamaah di Musholla Al-Firdaus Pengadilan Agama Sampang. Kegiatan ibadah rutin ini dilanjutkan dengan bimbingan mental yang disampaikan oleh Hakim Pengadilan Agama Sampang, Bapak Hasanuddin, S.Sy., M.H., dengan tema “Memaknai Hari Santri Nasional.” Dalam kesempatan tersebut, Bapak Hasanuddin mengawali ceramahnya dengan menyapa Ketua Pengadilan Agama Sampang, para Hakim, Sekretaris, serta seluruh pegawai yang hadir. Beliau menyampaikan bahwa salat berjamaah merupakan amalan yang sangat dianjurkan dan insyaallah akan diterima oleh Allah SWT, karena di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, kekhusyukan, dan keikhlasan.

Beliau juga mengungkapkan rasa syukurnya atas suasana religius di lingkungan Pengadilan Agama Sampang, di mana para pegawai rutin melaksanakan salat berjamaah dan mengikuti kegiatan bimbingan mental. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkuat iman sekaligus mempererat silaturahmi antarpegawai. Beliau berharap agar Musholla Al-Firdaus dapat terus berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan yang aktif dan produktif. Dalam ceramahnya, Bapak Hasanuddin juga menyinggung makna Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Beliau menjelaskan bahwa Hari Santri merupakan momentum bersejarah yang menandai semangat perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui Resolusi Jihad. Nilai yang terkandung di dalamnya adalah semangat keimanan dan keteguhan dalam menegakkan kebaikan.

Beliau menekankan bahwa santri sejati adalah pribadi yang istiqamah dalam berbuat baik, mengamalkan ilmu, serta taat kepada guru dan ajaran agamanya. Dalam penjelasannya, beliau membedakan dua istilah:
1. “Santri bau”, yaitu orang yang pernah nyantri namun tidak istiqamah dalam kebaikan.
2. “Berbau santri”, yaitu mereka yang mungkin tidak pernah mondok, tetapi tetap istiqamah dalam menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, Bapak Hasanuddin menyebutkan tiga ciri utama seorang santri sejati, yaitu:
1. Al-Ihtimām bi al-Fard al-‘Ainiyyah, yaitu berpegang teguh dan mawas diri dengan melaksanakan kewajiban fardhu ‘ain seperti salat lima waktu.
2. Al-Ihtimām bi al-Farāidh al-Dīniyyah, yaitu senantiasa waspada dan menjaga diri agar tidak terjerumus dalam dosa besar, di antaranya dengan memperbanyak istighfar dan membaca Al-Qur’an.
3. Husnul Adab ma‘allāh wa ma‘al-khalq, yaitu berakhlak mulia, baik kepada Allah SWT maupun sesama manusia.
Beliau menutup bimbingan mental dengan mengutip hadis dari riwayat At-Tirmidzi, bahwa Rasulullah SAW merasa senang melihat umatnya yang istiqamah dalam kebaikan, dan merasa sedih ketika melihat kemungkaran.

